Si sulung anak pertama.
Kata mereka bahunya harus sekuat baja,
karena dunia tak melulu tentang dirinya.
Hatinya harus setegar karang,
menyimpan rapat segala beban di hidupnya.
Air matanya tidak boleh jatuh,
meski kadang dunianya runtuh.
Tangisnya hanya terdengar dalam hening,
meratapi setiap mimpi yang direlakan.
Dia mengalah
pada angan yang tak lagi indah.
Dia patah
pada sajak yang tak kenal menyerah.
Aku baik saja,
menjadi mantra yang sering dirapalkan
dari hatinya yang patah,
langkah yang hilang arah, dari jiwanya yang lelah.
Terkadang semua bukan karena dia mampu,
tapi karena dia harus.
Di pundak nya dititipkan
segala harap yang lebih besar dari dirinya.
Untuk si sulung anak pertama, ingatlah peluk dirimu.
Tetaplah kuat melawan dunia.
Biarkanlah semeta bekerja
Doamu akan menjadi saksinya.