Wednesday, August 20, 2014

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Terima kasih telah berbagi secangkir hangat inspirasi.

--

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?" Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya" "Tuhan menciptakan semuanya?" tanya Profesor sekali lagi. "Ya Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan meciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bis berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."'


Mahasiswa itu terdiam dan tidak dapat menjawab hipotesis Profeosr tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos. Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, " Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?" "Tentu saja" jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,  "Profesor, apakah dingin itu ada?" "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" tanya si Profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap  dingin itu adalah ketaiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."  Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada" Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."


Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?" Dengan bimbang Profesor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan." Terhadap pernyataan ini mahasiswa menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."


Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.


negeri pasir berkabut

--

Aku rindu bertukar kisah denganmu.

Monday, April 28, 2014

Untitled

Lebih sakit terluka karena dia
atau terluka tanpa dia?

--

Titik.

Sudah boleh menyerah, Tuhan?

Ketika pikiran ini menolak berkerja,
Semangat yang membisu tak bersuara,
Jangankan melangkah, sekedar bangkit pun enggan rasanya

--

Bukan tidak mampu. Namun hanya enggan datang menyergap. Bukan pula tak peduli, tapi hanya terlalu lelah untuk mencari tahu. Mungkin rasanya terlalu egois. Iya, aku tahu. Tapi bagaimana jika ego ini terlalu tinggi untuk dibenturkan dengan realita? Namun memang ketika tidak ada lagi pilahan, bukankah pada akhirnya kita harus mengalah pada keadaan? Ya bukan berarti menyerah, tetapi memutar arah untuk mencari simpangan hidup yang lain.

Aku tertegun. Barisan kata ini meluruhkan seluruh egoku.

"Ketika kau tetap mendayung sampan sendirian
ditengah sungai penuh beban kesendirian dan tangis,
ketika kau terus maju mendayung bukan karena tidak bisa kembali
tapi meyakini itu akan membawa janji masa depan yang lebih baik"

Rangkaian kata tadi adalah pencarian untuk semua pertanyaan yang menyesakan dada. Dari dulu cara-Nya memberikan jawaban memang tidak pernah biasa, aneh, mengejutkan, tapi selalu..........melegakan.  


Jika titik. adalah simbol yang menandakan akhir, aku yakin bukan sekarang saatnya untuk berhenti dan menyerah. Klise memang, tapi belum disebut akhir jika belum bahagia, bukan? Pada titik ini, akhirnya aku menemukan alasan untuk terus mendayung hingga akhir. Ya, perjuangan tanpa batas. Hidup memang pilihan. Memilih untuk terus mendayung hingga tepi atau diam menyerah dan pada akhirnya tenggelam hingga ke dasar. Pada akhirnya, aku memilih terus maju mendayung. Bukan karena tidak bisa kembali tapi aku meyakini bahwa perjuangan tidak akan khianat.



Untuk mereka, yang selalu ada dan menjadi alasan untuk terus mendayung maju.



It will all be worth it in the end (titik.)

Monday, April 14, 2014

Semesta

Sore yang kelabu,

Rintik hujan, senja yang sunyi dan ingatan tanpa jejak hadir menemani. Jarum jam yang berdetak setiap detiknya seakan memburu waktu. Di sudut ini, kembali mencoba menyelami makna kehidupan.

Pernah dengar konspirasi semesta? Entah, tapi aku percaya akan hal itu. Realita nyata hadir karena semesta berkonspirasi dengan alam sadar kita, ketika rencana yang menggantung dalam angan bersimpangan dengan rencana semesta. Namun, tentu tidak selamanya setiap angan akan menjadi kenyataan, bukan? Tidak selamanya mimpi kita bersimpangan dengan kemungkinan yang sekiranya telah semesta rencanakan, bisa saja beririsan, sekedar bersinggungan atau malah sama sekali tidak bersentuhan. Karena itu, aku selalu percaya akan kekuatan takdir. Selalu ada alasan untuk setiap takdir yang kita jalani. Selalu ada alasan untuk semesta berkonspirasi mewujudkan mimpi yang semula hanya menggantung di langit angan.

Karena itu, biarkanlah tangan-tangan tak kerlihat itu memainkan perannya. Yakini-lah bahwa selalu ada alasan dibalik setiap rencana jalan kehidupan yang Tuhan dan semesta telah persiapkan.


Saturday, March 15, 2014

Rejection

"Rejection doesn't matter"



Banyak andai yang terlintas. Namun, layaknya tertampar oleh kenyataan, aku pun terhenyak. Sulit memang untuk diterima, sampai kata-kata itu mulai hinggap dalam pikiran. 

Hancur memang. Tapi bukankah seluruh kepingan harapan tadi harus terangakai kembali agar kaki dapat terus melangkah? Mungkin hanya ingin yang menggantung di langit-langit angan. Tapi aku menyakini satu hal, Engkau  selalu memiliki rencana yang indah kelak. 

Ya Allah, jika ini memang setapak hidup yang harus kutelusuri, kuatkan dan yakinkan jika pilihan-Mu memang jalan yang terbaik

Wednesday, January 22, 2014

Unreachable

Entah dimulai sejak kapan, tapi aku merasa jika ada yang berbeda. Apa yang berbeda pun aku juga tidak tau pasti. Unreachable. Mungkin hanya itu kata yang bisa digunakan mendeskripsikan semuanya saat ini.

Kisahmu harimu ku tau semua
tanpa kau berujar aku selami
Gerakmu guraumu kemasan raga
tanpa kau sadari aku pahami

Cinta memang mungkin inilah cinta
apapun lagumu aku jiwai
Cinta memang mungkin inilah cinta
tanpa ku miliki rindu terasa

Bukan tak percaya diri
karna aku tau diri

Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu
mengagumimu dari jauh
Aku menjagamu tanpa menjagamu
menyayangimu dari jauh

(Tulus-Mengagumi dari Jauh)

Hujan

Kamu, seperti halnya hujan, mengapa begitu lekat?
Hadiranmu membawa rasa dan memori yang tampaknya tak asing lagi.
Samar memunculkan ingatan yang sama, masa lalu.

Saturday, January 11, 2014

Antara Idealisme dan Realisme

Your life is the sum result of all the choices you make, both consciously and unconsciously. If you can control the process of choosing, you can take control of all aspects of your life. You can find the freedom that comes from being in charge of yourself.

Dalam hidup ini tentu kita tidak akan luput dari apa yang disebut sebuah pilihan. Memilih itulah inti dari kehidupan ini. Pilihan-pilihan itu yang kelak akan menghidupkan kehidupan kita. Mungkin memang terkadang sulit, tapi nyatanya semua pilihan ini harus ditempuh agar roda kehidupan ini dapat berjalan, bukan?

Aku pernah mengalami fase cukup sulit sejauh perjalanan hidup ini. Tentu masalah mengenai masa depan sejatinya adalah hal yang cukup sulit diputuskan. Ketika dihapadapkan pada dua pilihan, antara idealisme yang tidak realistis dan realisme yang pragmatis, tentu ada dilema tersendiri yang muncul dalam diri ini. 

Terkadang menjadi idealis adalah hal yang dianggap tepat, karena didasarkan pada hati nurani dan perasaan serta kekuatan mendasar pada diri kita masing-masing. Itu pula yang aku rasakan saat itu. Ketika seseorang merasa memiliki suatu passion dalam bidang tertentu dan ia merasa hal itu yang akan memanusiakannya, tentu itu akan menjadi idealisme yang akan terus dijunjung tinggi. Aku meyakini hal yang satu itu. Namun seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa terlalu naif bila sepenuhnya mempercayai hal itu. Membuaut pilihan diantara idealisme yang tidak realistis dan realisme yang pragmatis tentu bukan perkara mudah. Tidak hanya sebatas memilih berdasarkan anggapan baik dan buruk, namun ada hal lain yang jauh lebih mendasar.

Dan hingga sampai pada titik ini, disinilah aku. Tentu pada akhirnya kita harus memilih, bukan? Menurut saya memilih adalah sebuah pilihan. Ketika aku memilih untuk meluruhkan segala ego, mempertimbangkan kepentingan yang jauh lebih besar, tidak hanya berkaitan dengan diriku sendiri namun juga orang sekitar yang teramat berharga, tentu bukan pillihan yang mudah. Tapi aku percaya tentu akan ada balasan yang pantas untuk semuanya, pilihan ini, kehidupan yang aku jalani saat ini serta hasilnya kelak. 

Semoga bisa bertahan pada pilihan ini hingga fase terakhir. 

Stop thinking, just let things happen. If it should have, it would have.

2014, Another Story!

Time flies so fast, right?

Tidak terasa semua berlalu bergitu cepat, hingga saat ini tanpa terasa jejak ini telah melangkah di tahun yang baru. Memulai tahun yang baru tentu harus dengan pengharapan baru juga, bukan? Menjadi jauh lebih baik, tentu itulah yang memang seharusnya terjadi. Karena bukankah esensi dari kehidupan itu sendiri adalah belajar untuk terus melangkah hingga batas yang tidak bisa ditentukan.

Setiap orang pasti akan mengawali tahun ini dengan setumpuk resolusi awal tahun yang-semoga-akan-terealisasi-kelak. Namun kali ini aku akan mencoba untuk memutar ulang kembali waktu untuk menemukan alasan mengapa aku bisa sampai di titik ini, hingga saat ini.

2013 tentu bukanlah perjalanan yang biasa, banyak sekali hal terjadi di tahun ini. Ibarat sebuah roller coaster kehidupan dengan lintasan tak terduga yang terkadang mengejutkan, tahun ini hadir dengan segala surprise di dalamnya yang terkadang dapat membuat kita, tersenyum, menangis, tertawa ataupun bahkan terhenyak karenanya.

2013 telah menjadi salah satu fase penting dalam kehidupan ini. Segala mimpi dan harapan yang telah terwujud merupakan bagian manis dari tahun ini. Menjadi bagian dari sebuah kampus perjuangan tentu menjadi impian bagi banyak orang, tanpa terkecuali impian besar untuk diri ini. Pencapaian besar ini tentu tidak akan terwujud tanpa campur tangan-Mu, Ya Allah.

Biarkan yang berlalu, menjadi bagian dari perjalanan hidupku dan menjadi perlajaran tersendiri kelak. Karena itulah sesungguhnya guna dari sebuah pengalaman, menjadi pelajaran untuk melangkah lebih lanjut. Awal tahun ini tentu aku lewati dengan ucapan syukur atas semua hal yang telah Kau limpahkan dalam kehidupanku. Dengan segala keyakinan yang ada, aku percaya bahwa Engkau telah mempersiapkan lintasan kehidupan lain dengan segala 'kejutan' di dalamnya.

Aku, Kau dan Kita

Aku, kau, telah kehilangan kita. Di setapak itu, di mana titik hilang adalah kelokan terjauh yang menelan punggungmu.

Disetiap awal tentu akan ada akhir yang menanti. Layaknya dua sisi yang berbeda, pertemuan yang pasti akan diakhiri oleh perpisahan, kemarau yang akan luput oleh hujan, serta tawa yang perlahan sirna tergantikan oleh luka. Begitu juga kita, sebuah keniscayaan. 

Aku lupa, jika semua luka perlahan-lahan akan sembuh juga. Ibarat tanah tandus di tengah gersangnya kemarau, luka itu perlahan akan hilang seraya hujan mulai menyapa, bukan? Biarkan saja waktu yang menjadi obatnya.

Seperti yang banyak orang katakan, satu-satunya hal yang dapat menyembuhkan luka itu adalah waktu ataupun, mungkin orang baru. Saat itu akan tiba, ketika aku benar-benar menerima kenyataan bahwa kini tak ada lagi 'kita'. Bukan 'kita' antara kau dan aku. Tapi 'kita' yang kini antara kau dan dia. Bukan artinya melupakan semua yang telah terjadi, melainkan menerima apapun kenyataan yang ada dan mencoba untuk terus melangkah.

Hingga saat ini aku masih menunggu saat yang tepat. Jika mungkin waktu belum bisa menyembuhkan, semoga pencarian dapat menjadi obatnya. Akan ada waktu yang tepat dimana akan hadir pula orang yang tepat, bukan hal yang mustahil kan? Entah kau ataupun dia, namun aku percaya jika rencana-Nya adalah hal terindah yang telah dipersiapkan untukku. Hingga pada saatnya kelak aku akan "jatuh" tanpa syarat apapun. Karena memang begitu seharusnya, bukan?