Monday, February 27, 2023

Sulung.

Si sulung anak pertama.

Kata mereka bahunya harus sekuat baja, 

karena dunia tak melulu tentang dirinya.

Hatinya harus setegar karang, 

menyimpan rapat segala beban di hidupnya.


Air matanya tidak boleh jatuh, 

meski kadang dunianya runtuh.

Tangisnya hanya terdengar dalam hening, 

meratapi setiap mimpi yang direlakan.


Dia mengalah

pada angan yang tak lagi indah.

Dia patah

pada sajak yang tak kenal menyerah.


Aku baik saja,

menjadi mantra yang sering dirapalkan 

dari hatinya yang patah, 

langkah yang hilang arah, dari jiwanya yang lelah.


Terkadang semua bukan karena dia mampu,

 tapi karena dia harus.

Di pundak nya dititipkan

segala harap yang lebih besar dari dirinya.


Untuk si sulung anak pertama, ingatlah peluk dirimu.

Tetaplah kuat melawan dunia.

Biarkanlah semeta bekerja

Doamu akan menjadi saksinya.

Wednesday, August 20, 2014

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Terima kasih telah berbagi secangkir hangat inspirasi.

--

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?" Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya" "Tuhan menciptakan semuanya?" tanya Profesor sekali lagi. "Ya Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan meciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bis berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."'


Mahasiswa itu terdiam dan tidak dapat menjawab hipotesis Profeosr tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos. Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, " Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?" "Tentu saja" jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,  "Profesor, apakah dingin itu ada?" "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" tanya si Profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap  dingin itu adalah ketaiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."  Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada" Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."


Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?" Dengan bimbang Profesor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan." Terhadap pernyataan ini mahasiswa menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."


Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.


negeri pasir berkabut

--

Aku rindu bertukar kisah denganmu.

Monday, April 28, 2014

Untitled

Lebih sakit terluka karena dia
atau terluka tanpa dia?

--

Titik.

Sudah boleh menyerah, Tuhan?

Ketika pikiran ini menolak berkerja,
Semangat yang membisu tak bersuara,
Jangankan melangkah, sekedar bangkit pun enggan rasanya

--

Bukan tidak mampu. Namun hanya enggan datang menyergap. Bukan pula tak peduli, tapi hanya terlalu lelah untuk mencari tahu. Mungkin rasanya terlalu egois. Iya, aku tahu. Tapi bagaimana jika ego ini terlalu tinggi untuk dibenturkan dengan realita? Namun memang ketika tidak ada lagi pilahan, bukankah pada akhirnya kita harus mengalah pada keadaan? Ya bukan berarti menyerah, tetapi memutar arah untuk mencari simpangan hidup yang lain.

Aku tertegun. Barisan kata ini meluruhkan seluruh egoku.

"Ketika kau tetap mendayung sampan sendirian
ditengah sungai penuh beban kesendirian dan tangis,
ketika kau terus maju mendayung bukan karena tidak bisa kembali
tapi meyakini itu akan membawa janji masa depan yang lebih baik"

Rangkaian kata tadi adalah pencarian untuk semua pertanyaan yang menyesakan dada. Dari dulu cara-Nya memberikan jawaban memang tidak pernah biasa, aneh, mengejutkan, tapi selalu..........melegakan.  


Jika titik. adalah simbol yang menandakan akhir, aku yakin bukan sekarang saatnya untuk berhenti dan menyerah. Klise memang, tapi belum disebut akhir jika belum bahagia, bukan? Pada titik ini, akhirnya aku menemukan alasan untuk terus mendayung hingga akhir. Ya, perjuangan tanpa batas. Hidup memang pilihan. Memilih untuk terus mendayung hingga tepi atau diam menyerah dan pada akhirnya tenggelam hingga ke dasar. Pada akhirnya, aku memilih terus maju mendayung. Bukan karena tidak bisa kembali tapi aku meyakini bahwa perjuangan tidak akan khianat.



Untuk mereka, yang selalu ada dan menjadi alasan untuk terus mendayung maju.



It will all be worth it in the end (titik.)

Monday, April 14, 2014

Semesta

Sore yang kelabu,

Rintik hujan, senja yang sunyi dan ingatan tanpa jejak hadir menemani. Jarum jam yang berdetak setiap detiknya seakan memburu waktu. Di sudut ini, kembali mencoba menyelami makna kehidupan.

Pernah dengar konspirasi semesta? Entah, tapi aku percaya akan hal itu. Realita nyata hadir karena semesta berkonspirasi dengan alam sadar kita, ketika rencana yang menggantung dalam angan bersimpangan dengan rencana semesta. Namun, tentu tidak selamanya setiap angan akan menjadi kenyataan, bukan? Tidak selamanya mimpi kita bersimpangan dengan kemungkinan yang sekiranya telah semesta rencanakan, bisa saja beririsan, sekedar bersinggungan atau malah sama sekali tidak bersentuhan. Karena itu, aku selalu percaya akan kekuatan takdir. Selalu ada alasan untuk setiap takdir yang kita jalani. Selalu ada alasan untuk semesta berkonspirasi mewujudkan mimpi yang semula hanya menggantung di langit angan.

Karena itu, biarkanlah tangan-tangan tak kerlihat itu memainkan perannya. Yakini-lah bahwa selalu ada alasan dibalik setiap rencana jalan kehidupan yang Tuhan dan semesta telah persiapkan.


Saturday, March 15, 2014

Rejection

"Rejection doesn't matter"



Banyak andai yang terlintas. Namun, layaknya tertampar oleh kenyataan, aku pun terhenyak. Sulit memang untuk diterima, sampai kata-kata itu mulai hinggap dalam pikiran. 

Hancur memang. Tapi bukankah seluruh kepingan harapan tadi harus terangakai kembali agar kaki dapat terus melangkah? Mungkin hanya ingin yang menggantung di langit-langit angan. Tapi aku menyakini satu hal, Engkau  selalu memiliki rencana yang indah kelak. 

Ya Allah, jika ini memang setapak hidup yang harus kutelusuri, kuatkan dan yakinkan jika pilihan-Mu memang jalan yang terbaik

Wednesday, January 22, 2014

Unreachable

Entah dimulai sejak kapan, tapi aku merasa jika ada yang berbeda. Apa yang berbeda pun aku juga tidak tau pasti. Unreachable. Mungkin hanya itu kata yang bisa digunakan mendeskripsikan semuanya saat ini.

Kisahmu harimu ku tau semua
tanpa kau berujar aku selami
Gerakmu guraumu kemasan raga
tanpa kau sadari aku pahami

Cinta memang mungkin inilah cinta
apapun lagumu aku jiwai
Cinta memang mungkin inilah cinta
tanpa ku miliki rindu terasa

Bukan tak percaya diri
karna aku tau diri

Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu
mengagumimu dari jauh
Aku menjagamu tanpa menjagamu
menyayangimu dari jauh

(Tulus-Mengagumi dari Jauh)