Monday, April 28, 2014

Titik.

Sudah boleh menyerah, Tuhan?

Ketika pikiran ini menolak berkerja,
Semangat yang membisu tak bersuara,
Jangankan melangkah, sekedar bangkit pun enggan rasanya

--

Bukan tidak mampu. Namun hanya enggan datang menyergap. Bukan pula tak peduli, tapi hanya terlalu lelah untuk mencari tahu. Mungkin rasanya terlalu egois. Iya, aku tahu. Tapi bagaimana jika ego ini terlalu tinggi untuk dibenturkan dengan realita? Namun memang ketika tidak ada lagi pilahan, bukankah pada akhirnya kita harus mengalah pada keadaan? Ya bukan berarti menyerah, tetapi memutar arah untuk mencari simpangan hidup yang lain.

Aku tertegun. Barisan kata ini meluruhkan seluruh egoku.

"Ketika kau tetap mendayung sampan sendirian
ditengah sungai penuh beban kesendirian dan tangis,
ketika kau terus maju mendayung bukan karena tidak bisa kembali
tapi meyakini itu akan membawa janji masa depan yang lebih baik"

Rangkaian kata tadi adalah pencarian untuk semua pertanyaan yang menyesakan dada. Dari dulu cara-Nya memberikan jawaban memang tidak pernah biasa, aneh, mengejutkan, tapi selalu..........melegakan.  


Jika titik. adalah simbol yang menandakan akhir, aku yakin bukan sekarang saatnya untuk berhenti dan menyerah. Klise memang, tapi belum disebut akhir jika belum bahagia, bukan? Pada titik ini, akhirnya aku menemukan alasan untuk terus mendayung hingga akhir. Ya, perjuangan tanpa batas. Hidup memang pilihan. Memilih untuk terus mendayung hingga tepi atau diam menyerah dan pada akhirnya tenggelam hingga ke dasar. Pada akhirnya, aku memilih terus maju mendayung. Bukan karena tidak bisa kembali tapi aku meyakini bahwa perjuangan tidak akan khianat.



Untuk mereka, yang selalu ada dan menjadi alasan untuk terus mendayung maju.



It will all be worth it in the end (titik.)

No comments:

Post a Comment