Saturday, January 11, 2014

Aku, Kau dan Kita

Aku, kau, telah kehilangan kita. Di setapak itu, di mana titik hilang adalah kelokan terjauh yang menelan punggungmu.

Disetiap awal tentu akan ada akhir yang menanti. Layaknya dua sisi yang berbeda, pertemuan yang pasti akan diakhiri oleh perpisahan, kemarau yang akan luput oleh hujan, serta tawa yang perlahan sirna tergantikan oleh luka. Begitu juga kita, sebuah keniscayaan. 

Aku lupa, jika semua luka perlahan-lahan akan sembuh juga. Ibarat tanah tandus di tengah gersangnya kemarau, luka itu perlahan akan hilang seraya hujan mulai menyapa, bukan? Biarkan saja waktu yang menjadi obatnya.

Seperti yang banyak orang katakan, satu-satunya hal yang dapat menyembuhkan luka itu adalah waktu ataupun, mungkin orang baru. Saat itu akan tiba, ketika aku benar-benar menerima kenyataan bahwa kini tak ada lagi 'kita'. Bukan 'kita' antara kau dan aku. Tapi 'kita' yang kini antara kau dan dia. Bukan artinya melupakan semua yang telah terjadi, melainkan menerima apapun kenyataan yang ada dan mencoba untuk terus melangkah.

Hingga saat ini aku masih menunggu saat yang tepat. Jika mungkin waktu belum bisa menyembuhkan, semoga pencarian dapat menjadi obatnya. Akan ada waktu yang tepat dimana akan hadir pula orang yang tepat, bukan hal yang mustahil kan? Entah kau ataupun dia, namun aku percaya jika rencana-Nya adalah hal terindah yang telah dipersiapkan untukku. Hingga pada saatnya kelak aku akan "jatuh" tanpa syarat apapun. Karena memang begitu seharusnya, bukan?



No comments:

Post a Comment